Kisah Joncik Muhammad, Anak Petani yang Memilih Jalan Pengabdian

DPW PAN SUMSEL — Ada banyak cara untuk bercerita tentang Joncik Muhammad. Bisa melalui deretan jabatan yang pernah diembannya, panjangnya perjalanan pendidikan, atau karier politik yang membawanya dari kursi legislatif hingga kembali menjadi Bupati Empat Lawang.

Namun, sebelum semua jabatan itu melekat pada namanya, Joncik adalah seorang anak yang tumbuh di Desa Sawah, Kecamatan Muara Pinang, Empat Lawang.

Ia lahir pada 4 November 1970 dari keluarga sederhana. Sang ayah bekerja sebagai petani. Kehidupan desa dan keterbatasan ekonomi justru menjadi bagian penting yang membentuk cara pandangnya tentang kerja keras dan pendidikan. Sejak kecil, Joncik memilih sekolah sebagai salah satu jalan untuk mengubah masa depan. 

Perjalanan itu dimulai dari SD Negeri 16 Desa Sawah. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Muara Pinang dan SMA Negeri 1 Tebing Tinggi. Dari sekolah yang berada jauh dari pusat kota, langkahnya kemudian membawa Joncik ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada.

Di kampus, Joncik tidak hanya duduk di ruang kuliah.

Ia masuk ke dunia organisasi. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi salah satu ruang yang menempa kemampuan kepemimpinannya. Ia dipercaya menjadi Ketua BEM Fakultas Geografi UGM dan kemudian pernah menjadi pengurus HMI Cabang Yogyakarta. Dari ruang-ruang diskusi mahasiswa itulah kemampuan berbicara, berorganisasi, dan membaca persoalan masyarakat semakin terasah. 

Dari ruang kampus, ia kemudian masuk ke ruang pengabdian yang lebih luas: politik.

Politik sebagai Jalan Pengabdian

Karier politik Joncik Muhammad tidak langsung membawanya ke panggung provinsi.

Ia memulainya dari Kabupaten Lahat. Terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Lahat, Joncik kemudian dipercaya memimpin Komisi C selama dua periode, 1999–2004 dan 2004–2007.

Ketika Empat Lawang berdiri sebagai daerah otonom baru, perjalanan politiknya ikut bergerak bersama daerah tersebut. Joncik dipercaya menjadi Ketua DPRD Empat Lawang pada 2007–2009 dan kemudian Wakil Ketua DPRD pada 2009–2014.

Langkahnya berlanjut ke tingkat provinsi. Ia menjadi anggota DPRD Sumatera Selatan dan dipercaya memimpin Komisi II DPRD Sumsel. Pengalaman panjang di lembaga legislatif inilah yang kemudian menjadi modal ketika ia memasuki arena pemerintahan. 

Di saat yang sama, aktivitas Joncik di PAN juga terus berkembang. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua BAPPILU DPP PAN dan kemudian menjadi bagian dari kepemimpinan PAN Sumatera Selatan.

Bagi Joncik, politik bukan sekadar tentang memenangkan pemilihan. Politik adalah ruang untuk membawa gagasan menjadi kebijakan dan mengubah keluhan masyarakat menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan.

Kembali ke Empat Lawang

Pada 2018, Joncik mengambil langkah besar.

Ia maju sebagai calon Bupati Empat Lawang berpasangan dengan Yulius Maulana. Pasangan tersebut memenangkan Pilkada 2018 dan Joncik kemudian dilantik sebagai Bupati Empat Lawang untuk periode 2018–2023. 

Lima tahun memimpin daerah menjadi fase lain dalam perjalanan politiknya. Ia tidak lagi berbicara dari kursi legislatif, tetapi harus berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat: jalan, pelayanan publik, pertanian, pendidikan, ekonomi, hingga pembangunan daerah.

Empat Lawang bukan sekadar wilayah yang ia pimpin.

Daerah itu adalah tanah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

Karena itu, hubungan Joncik dengan Empat Lawang memiliki dimensi personal yang lebih dalam. Ia memahami bagaimana rasanya tumbuh dari daerah yang jauh dari pusat kekuasaan, mengejar pendidikan, kemudian kembali untuk memimpin.

Jalan yang Kembali ke Titik Awal

Setelah menyelesaikan masa jabatan pertamanya sebagai bupati, perjalanan Joncik belum berhenti.

Pilkada 2024 membawa namanya kembali ke arena. Kontestasi tersebut kemudian berlanjut dengan proses hukum dan Pemungutan Suara Ulang. Setelah proses tersebut, Joncik Muhammad bersama Arifa’i kembali dipercaya memimpin Empat Lawang.

Keduanya kemudian dilantik pada 16 Juni 2025 untuk periode 2025–2030. 

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan itu.

Joncik kembali ke kursi yang sama, tetapi dengan pengalaman yang berbeda.

Ia tidak lagi datang sebagai pemimpin yang baru belajar memahami pemerintahan. Ia datang dengan pengalaman legislatif, pengalaman memimpin daerah, pengalaman organisasi, serta perjalanan politik yang panjang.

Dari Empat Lawang ke PAN Sumatera Selatan

Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, Joncik juga dipercaya mengambil tanggung jawab lebih besar di tubuh PAN.

Dalam Musyawarah Wilayah VI PAN Sumatera Selatan pada April 2025, Joncik Muhammad ditetapkan sebagai Ketua DPW PAN Sumsel periode 2025–2030. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Sekretaris DPW PAN Sumsel. 

Posisi tersebut membuat Joncik kini berada pada dua ruang pengabdian sekaligus: pemerintahan daerah dan organisasi politik.

Di PAN Sumsel, tantangannya tentu berbeda. Ia tidak hanya berbicara tentang satu kabupaten, tetapi harus melihat Sumatera Selatan secara lebih luas—dari Palembang hingga wilayah-wilayah pelosok, dari kader partai hingga masyarakat yang menjadi basis perjuangan politik.

Di titik inilah pengalaman panjangnya menjadi penting.

Joncik memahami politik dari bawah. Ia pernah menjadi aktivis mahasiswa, anggota DPRD kabupaten, pimpinan DPRD, anggota DPRD provinsi, kepala daerah, sekaligus pengurus partai.

Perjalanan itu membuat politik baginya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh bersamanya.

Anak Petani yang Terus Berjalan

Ada satu benang merah yang menghubungkan perjalanan Joncik Muhammad: pendidikan, organisasi, politik dan pengabdian.

Dari Desa Sawah, ia belajar tentang kesederhanaan.

Dari kampus, ia belajar tentang gagasan.

Dari organisasi, ia belajar tentang kepemimpinan.

Dari parlemen, ia belajar tentang kebijakan.

Dan dari pemerintahan, ia belajar bahwa setiap keputusan pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat.

Kini, Joncik Muhammad berada pada fase yang berbeda dalam hidupnya. Ia bukan lagi sekadar seorang anak desa yang mengejar pendidikan. Ia telah menjadi bupati dua periode dan dipercaya memimpin PAN Sumatera Selatan.

Namun, perjalanan panjang itu justru mengingatkan pada satu hal sederhana:

bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari ruang besar. Kadang, ia tumbuh dari sebuah desa kecil, dari keluarga sederhana, dari seorang anak yang memilih untuk terus belajar dan tidak berhenti berjalan.

Dan dari Desa Sawah itulah, perjalanan Joncik Muhammad bermula.

Dari desa, menuju parlemen. Dari parlemen, menuju pemerintahan. Dan kini, membawa pengalaman itu kembali untuk membangun Sumatera Selatan melalui jalan politik dan pengabdian.

Posting Komentar untuk "Kisah Joncik Muhammad, Anak Petani yang Memilih Jalan Pengabdian"